OPINI KITA

Kerja Keras, Tekun, Ulet, dan Teliti

By : Berbagai Sumber.

Rekan Mitra yang Mulia – Kerja Keras dapat diartikan melakukan sesuatu dengan sungguh sungguh untuk mencapai sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan.

Kerja keras dapat dilakukan dalam segala hal, mungkin dalam bekerja
mencari rezeki, menuntut ilmu, berkreasi, membantu orang lain, atau kegiatan yang lain.

Bekerja keras merupakan salah satu ajaran Islam yang harus dibiasakan
oleh umatnya.

Islam menganjurkan umatnya agar selalu bekerja keras untuk mencapai keinginan dan cita-cita, hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt. yang memiliki arti berikut.

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan
Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia”.

Secara tegas mengingatkan bahwa
kita dilarang hanya mementingkan
kehidupan akhirat, dan melupakan kehidupan dunia.

Islam mengajarkan agar manusia menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan urusan akhirat.

Bekerja untuk dunia harus seimbang
dengan beribadah untuk akhirat, khusus untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan dunia, syaratnya harus dilakukan dengan usaha dan kerja keras.

Bekerja keras telah dicontohkan oleh Rasulullah saw, dan para sahabat. Rasulullah saw. bekerja keras dengan cara berdagang untuk membantu perekonomian Abu Talib, Usman bin Affan bekerja keras hingga menjadi pengusaha yang sukses.

Contoh lain dapat ditemukan dalam sebuah hadis yang mengisahkan bahwa ada seorang sahabat yang ingin meninggalkan urusan dunia agar lebih khusyuk beribadah, sahabat tersebut berniat terus-menerus berpuasa dan beribadah sepanjang hari.

Mendengar berita tersebut, Rasulullah bersabda bahwa orang-orang yang
meninggalkan dunia dan lebih mengutamakan urusan akhirat, bukan
termasuk golongannya.

Hadis lain yang menunjukkan pentingnya bekerja keras, seperti diriwayatkan oleh Imam Baihaqi bahwa Rasulullah pernah bersabda yang artinya :

”Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari.”

Dalam riwayat Imam Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah juga pernah mengingatkan para sahabat agar tidak mencari jalan termudah dalam bekerja, misalnya dengan cara meminta-minta.

Orang yang ketika di dunia memilih bekerja mencari rezeki dengan cara meminta-minta, pada hari akhir akan dibalas dengan meminta-minta panasnya api neraka.

Contoh lain dari kerja keras dapat ditemukan dalam uraian, Siswa duduk di kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sebagai seorang
pelajar terlihat selalu rajin belajar, malam hari ia belajar, dan siang hari sepulang sekolah ia mengerjakan tugas yang diberikan guru.

Sisa waktu yang dimilikinya dipergunakan untuk membantu kedua orang tuanya yang berjualan dan belajar
Al-Qur’an di masjid, tidak ada sedikit pun waktu yang dibiarkannya berlalu tanpa sesuatu yang bermanfaat.

Keutamaan kerja keras sangat penting untuk dilakukan, diantara alasan pentingnya bekerja keras adalah Menunjukkan telah mengoptimalkan potensi dirinya, manusia telah dikaruniai akal, rasa, dan karsa sehingga harus menjaga harkat dan martabat dirinya.

Seseorang dapat mengubah nasib dirinya agar menjadi lebih baik, dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya.

Menunjukkan sikap tanggung jawab dengan memenuhi kebutuhan
dirinya sendiri, dapat hidup mandiri sehingga tidak menjadi beban orang lain, turut serta dalam memajukan lingkungan sekitar dan negara, menunjukkan persiapan agar dapat menggapai kesuksesan pada hari esok.

Pekerja keras selalu melakukan perencanaan dan usaha keras
dalam hidupnya, meskipun hasilnya tidak dapat ia petik langsung, tetap dapat dimanfaatkan untuk generasi sesudahnya.

Dengan berbagai keutamaan dari kerja keras, menunjukkan sifat ini sangat penting untuk dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan bekerja keras kita akan dapat memperoleh kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.

Bekerja keras dalam keseharia harus diwujudkan dalam kehidupan nyata, C dengan menjalankan sesuatu secara sungguh-sungguh, istiqamah, dan
tidak mudah menyerah. Bekerja keras harus dilakukan, meskipun memulainya dari hal-hal yang kecil dan terbatas, sikap kerja keras dapat dilakukan dalam berbagai lingkungan, misalnya keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Bekerja keras dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan cara bekerja dengan sungguh-sungguh di rumah untuk membantu orang tua, memanfaatkan waktu luang untuk belajar, dan tidak membuang waktu untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna.

Membelanjakan uang dengan hati-hati dan gemar menabung, berhemat dalam segala hal, misalnya dalam penggunaan
energi, seperti listrik, gas, bahan bakar minyak, dan air.

Bekerja keras juga harus dilakukan dalam lingkungan sekolah dengan cara Giat dan bersemangat dalam belajar, bersikap aktif dalam belajar, misalnya bertanya kepada guru tentang materi yang akan dipahami, tidak mudah putus asa dalam mengerjakan tugas yang diberikan
guru, tidak tergantung kepada orang lain dalam mengerjakan tugas-tugas
sekolah, rajin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk meningkatkan prestasi diri.

Bekerja keras dalam lingkungan masyarakat dapat dilakukan dengan
cara Ikut serta dalam kegiatan masyarakat, seperti siskamling dan kerja
bakti, turut serta dalam menjaga ketertiban dalam bermasyarakat, menjaga lingkungan agar tetap bersih dan asri, bersikap ramah tamah, peduli, dan suka menolong terhadap masyarakat sekitar, bersikap rendah hati dan tidak angkuh dalam setiap kesempatan.

Tekun, dan Ulet.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tekun diartikan dengan rajin, keras hati, atau bersungguh-sungguh.

Orang yang bersifat tekun ditunjukkan dengan kesungguhan dalam berusaha dan tetap bersemangat dalam menjalankan segala sesuatu, jika menghadapi rintangan yang menghadang, orang yang tekun dan tidak mudah menyerah.

Ulet diartikan dengan kuat atau tidak mudah putus asa, orang yang
bersifat ulet berarti tidak mudah menyerah meskipun banyak hambatan
yang harus dihadapi, keyakinan bahwa usaha yang dilakukan akan menuai hasil dan tidak sia-sia, selalu dimiliki oleh orang yang ulet.

Maka hal itu menunjukkan bahwa antara sifat tekun dan ulet memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan, keduanya harus ditunjukkan dengan sikap sungguh – sungguh dan tidak mudah menyerah.

Ketekunan dan keuletan merupakan salah satu syarat yang harus dimiliki
oleh seseorang untuk meraih kesuksesan dalam hidup.

Jika kerja keras, ketekunan, dan keuletan yang telah kita lakukan, ternyata belum membuahkan hasil yang memuaskan, tetap bersabar, kita tidak boleh menyerah dan putus asa.

Dalam Al-Qur’an Allah secara tegas membenci orang-orang yang mudah menyerah dan putus asa, sikap putus asa dalam menjalankan sesuatu bukan jalan keluar yang baik.

Sesungguhnya kesulitan apa pun dapat diselesaikan secara baik, asalkan disertai usaha keras dan ketekunan.

Berbeda dengan orang yang bersikap putus asa, ia akan menghentikan persoalannya dan tidak terselesaikan, bahkan, ia dianggap sebagai orang
yang tidak yakin pada kekuasaan dan kebesaran Allah sehingga digolongkan sebagai kaum kafir.

Contoh perilaku tekun dan ulet dapat
ditemukan dalam satu contoh :

Fatima duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Ia memiliki kelebihan dalam pelajaran bahasa Indonesia tetapi lemah dalam pelajaran matematika.

Fatima tidak mau menyerah pada keadaan, terus belajar dengan sungguh-sungguh dan mengikuti les matematika. Berkat ketekunan dan keuletannya, nilai Fatima pada semester ini meningkat.

Ketekunan dan keuletan dapat dilakukan dalam berbagai aktivitas, misalnya dalam belajar dan bekerja, kedua sifat ini juga mengandung keutamaan tertentu, antara lain, menjadi orang yang disukai oleh Allah.

Dalam salah satu hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dijelaskan bahwa amalan yang disukai oleh Allah adalah yang dilakukan secara rajin, memiliki perencanaan yang matang dalam menjalankan sesuatu pekerjaan menjadi cepat selesai sehingga tidak membuang waktu.

Bersikap disiplin dalam menyelesaikan sesuatu, seorang yang tekun memiliki target dan tujuan dalam menjalankan
sesuatu, tidak mudah bergantung pada orang lain, termasuk orang yang tekun dan ulet dapat menyelesaikan urusannya tanpa bergantung kepada orang lain.

Bersikap optimis, adalah orang yang tekun dan ulet memiliki kepercayaan diri dalam menjalankan sesuatu, tidak mudah menyerah.

Ketekunan juga merupakan ajaran agama yang sangat penting untuk kita biasakan, bahkan, dalam beribadah kita juga dianjurkan untuk bersifat sederhana dan tidak berlebihan, kita tidak dianjurkan untuk berlebihan dalam beribadah dehingga melupakan urusan yang lain.

Kita dianjurkan untuk beribadah secara tekun, meskipun berupa amalan yang sederhana.

Bersikap tekun dan ulet dalam keseharian merupakan syarat utama untuk meraih kesuksesan dalam hidup.

Sikap tekun dan ulet dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan cara menyelesaikan pekerjaan rumah yang menjadi tugas rutin, berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah yang menjadi tugasnya sendiri, tanpa tergantung kepada orang lain.

Menjalankan semua kegiatan di rumah dengan cermat, misalnya dengan membagi waktu untuk belajar, membantu orang tua, dan kegiatan lain.

Dalam lingkungan sekolah, tekun dan ulet dapat dilakukan dengan cara menjalankan peraturan sekolah dengan tertib, menyelesaikan tugas sekolah dengan sempurna, mendengarkan nasihat dan mematuhi perintah guru.

Dalam lingkungan masyarakat, tekun dan ulet dapat dilakukan dengan cara turut serta secara aktif dalam kegiatan yang berlangsung di tengah masyarakat, menjaga ketertiban dan ketenangan di lingkungan sekitar, bersikap peduli dan gemar menolong orang lain di lingkungan sekitar.

Teliti berarti cermat dan saksama dalam menjalankan sesuatu, orang yang teliti ditunjukkan dengan cermat, penuh minat, dan berhati-hati dalam menjalankan sesuatu agar tidak terjadi kesalahan.

Lawan dari sifat teliti dan tekun adalah ceroboh atau teledor.

Mengerjakan sesuatu, termasuk dalam berbicara, kita tidak boleh ceroboh, tetapi harus cermat, hal ini sebagaimana diingatkan dalam Surah. Al-H ujura.

”Wahai orang-orang yang beriman. Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Pesan ini memberi untuk selalu bersikap teliti dan hati-hati, termasuk dalam berucap, sikap ceroboh dan teledor hanya menjadikan sesuatu tidak selesai dengan sempurna.

Keutamaan teliti sangat penting dalam hidup, karena mengandung beberapa manfaat, terhindar dari kesalahan atau kekeliruan dalam melakukan sesuatu, dan terhindar dari sifat suuzan atau buruk sangka terhadap orang lain.

Orang yang teliti ketika menghadapi kegagalan tidak cepat-cepat menyalahkan orang lain, malah meningkatkan kesempurnaan setiap pekerjaan.

Orang yang teliti tidak suka menyelesaikan pekerjaan dengan setengah-setengah, terhindar dari penyesalan akibat kegagalan yang disebabkan ketergesa-gesaan.

Bersikap teliti dalam keseharian secara umum dapat diwujudkan ketika berkata dan mengerjakan sesuatu.

Teliti dalam berbicara atau berkata, caranya antara lain, tidak berbicara yang dapat menyinggung orang lain, menyampaikan informasi yang kebenarannya tidak diragukan lagi.

Tidak berlebihan dalam berbicara, tidak menuruti hawa nafsu ketika berbicara, istiqamah dan tidak munafik.

Bersikap teliti dalam mengerjakan sesuatu antara lain ditunjukkan dengan cara, Konsentrasi ketika bekerja, menyelesaikan segala urusan dengan tuntas, berhati-hati dan tidak tergesa gesa.

Memiliki rencana matang dan prinsip yang baik dalam bekerja, mendahulukan pekerjaan yang lebih penting daripada yang tidak perlu.

Semoga bermanfaat..🙏🙏|| ***

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top