Sumut

INTERFAITH DIALOGUE, CINTA TANAH AIR UNTUK MEWUJUDKAN PERDAMAIAN, LINTAS IMAN SUMATERA UTARA

Medan | Mitra Simalungu Jamaah Ahmadiyah menjadi penyelengara dialog lintas iman di Kafe Kopi Raden Mas, Kota Medan. Peserta acara Kopi Toleransi mulai memenuhi ruangan sambil menikmati suguhan berbagai aneka jenis makanan, Rabu (16/10), sekira jam 18.30 Wib.

Hadir perwakilan Mahasiswa dari UINSU, UNIKA ST. THOMAS, STT Abdi Sabda, dan berbagai perwakilan organisasi seperti LBH Medan, KBI, INGAGE, ASB, PMKRI, dll.

Peserta yang hadir kurang lebih berjumlah 100 orang. Itu sudah sesuai target peserta yang direncanakan ungkap dr. Muslihuddin selaku Ketua Panitia, Rabu (16/10), sekira jam 18.30 Wib.

Tepat pukul 20.00 WIB acara dipandu oleh Gunawan, S.Pd. Ketua Pemuda Ahmadiyah Sumatera Utara ini dengan menyerukan ke seluruh peserta untuk menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Acara Interfaith Dialogue dengan tema “Cinta Tanah Air Untuk Mewujudkan Perdamaian” diisi oleh pembicara dari Agama Budha Bhante Dhirapunno, Calon Pendeta Kristen Protestan Hotdinal Sitanggang, Pastor Kristen Katolik Emanuel Sonny Wibisono, O.Carm., sementara wakil Islam dari ormas NU Purjatian Azhar, M.Hum. berhalangan hadir sehingga terwakili oleh Mubaligh Islam Ahmadiyah Sumatera Utara Maulana Muhammad Idris.

Di hadapan 100 orang peserta perwakilan dari berbagai umat beragama dan lintas iman, pembicara pertama Hotdinal Sitanggang, Calon Pastor yang juga Mahasiswa di Sekolah Theologi Abdi Sabda Kota Medan ini mengatakan, “Tidak ada yang namanya kemerdekaan apabila tidak dimulai dari kebebasan beragama. Karena Indonesia sejak awalnya memang sudah terlahir dari keragaman, baik itu agama, suku, bahasa maupun budaya.”

Sementara pembicara kedua dari perwakilan Agama Budha, Bhante Dhirapunno menitik-beratkan kepada masalah perlunya memiliki rasa cinta, “Kedamaian dan keharmonisan bisa terwujud apabila akarnya adalah menghargai sesama. Jika ayat-ayat agama tidak dapat mnghentikan permusuhan, maka ayat-ayat cintalah yang mampu memberikan kedamaian.

Kita terlahir dari kedua insan yang saling mencintai sehingga kita terlahir dan tumbuh dengan cinta kasih.”

“Sebenarnya cinta sejati itu adalah karena ketulusan, tanpa perlu merasa harus berkorban seperti halnya seorang ibu mencintai anaknya.” Ujar penulis yang baru saja meluncurkan buku Noda Batin ini.

Pembicara ketiga Pastor Emanuel dalam memulai pembicaraannya bertanya ke seluruh peserta, “Kalau misalnya anda semua diberi pilihan antara membela agama anda atau memilih membela Tanah Air Indonesia?”

Semua hadirinpun serentak menjawab lebih memilih membela Tanah Air. Namun Pastor mengutip jawaban pernyataan dari Pahlawan Indonesia yang beragama Katolik, Sugiyo Pranoto, yaitu “Saya 100% akan membela Tanah Air Indonesia dan 100% juga akan membela agama.”

Pastor menambahkan, “Benih-benih radikalisme terkadang dimulai dari keluarga, yaitu ketika seorang anak kehilangan figur ayah, kurangnya cinta kasih dari ayah, mungkin sosok ayahnya ada, namun sang ayah mendidiknya dengan kekerasan, sehingga sang anak sampai dewasa menjadi pribadi yang keras dan suka membenci orang lain.

Oleh karena itu negara Indonesia bisa hancur bukan karena musuh dari luar, tetapi justru musuh yang sangat berbahaya dari rakyatnya itu sendiri dengan menularnya ajaran kebencian.

Sedangkan pembicara terakhir Maulana Muhammad Idris dalam paparannya mengatakan, “Dari pertemuan kita dalam skup yang kecil ini adalah bentuk langkah nyata untuk menjaga toleransi dan perdamaian di negara kita Indonesia. Tegaknya persatuan Indonesia ini berkat adanya semboyan negara Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila, ini menjadi pondasi utama kita dalam menjaga keutuhan NKRI.”

Lebih lanjut beliau mengatakan, “Cinta kepada tanah air merupakan ajaran universal yang ada di semua agama-agama. Di dalam Islam sendiri, ayat Alquran mencantumkan suatu doa Nabi Ibrahim yang senantiasa dipanjatkan oleh umat Islam, yaitu “Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang senantiasa aman sentosa.” Ujar Mubaligh yang pernah bertugas 8 tahun di Negara Tuvalu ini.

Acara yang mendapatkan antusias dari seluruh peserta ini dilanjutkan dengan tanya jawab dengan hadiah doorprize bagi setiap penanya. Tepat pukul 22.00 WIB acarapun diakhiri dengan foto bersama dengan para pembicara. Acara terselenggara sangat sukses dengan motto “Dalam kopi toleransi ada rasa, ada makna dalam hangat secangkir kopi kita” serta motto “Love For All Hatred For None.” (Cinta untuk semua, Benci tiada satu jua pun).|| rel.

1 Comment

1 Comment

  1. wormateio hacks

    Des 2, 2019 at 2:06 pm

    Wow, this piece of writing is fastidious, my sister is analyzing these
    things, thus I am going to let know her.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top